Oleh: Mas Bambang Purnomo Sigit

 
Waktu kecil saya membaca sebuah cerita yang sangat mengesankan di majalah anak-anak Bobo. Cerita ini mengenai bagaimana seseorang mampu mengembangkan dirinya dengan fasilitas yang sama seperti yang diberikan juga kepada orang lain. Begini ceritanya.

Pada jaman dahulu ada dua orang sahabat yang bernama Jamal dan Jamil. Pada suatu hari Jamal dan Jamil murid dari pertapa Sanjaya berjalan-jalan di dalam hutan. Hutan itu sangat asri dan rimbun, disana-sini tumbuh berbagai macam pohon. Tiba-tiba kedua orang itu menemukan jejak binatang. Dengan lantang Jamal mengatakan kalau itu adalah jejak seekor gajah. Jamil hanya terdiam sejenak, diperhatikannya dengan seksama jejak gajah itu dan diperhatikannya pula pohon-pohon yang tumbuh disepanjang jejak gajah itu. Dia tersenyum, lalu dia mengatakan bahwa gajah itu punya cacat di kaki kirinya, buta mata kanannya, serta memiliki tinggi sekitar dua meter. Jamal tak percaya, maka ia mengajak Jamil untuk bergegas berjalan agar dapat mengejar gajah tersebut. Tak berapa lama, mereka berjumpa dengan gajah yang keadaannya seperti apa yang dikatakan oleh Jamil. Jamal tentu saja terkejut, karena ia heran bagaimana Jamil bisa mengetahui kondisi gajah itu sedemikian mendetilnya. Padahal ia dan Jamil berguru pada guru yang sama, dan mulai berguru pada waktu yang sama pula, tetapi ia merasa belum pernah menerima pelajaran dari pertapa Sanjaya mengenai ilmu membaca jejak binatang semendetil Jamil.

Maka dengan marah-marah Jamal datang pada pertapa Sanjaya, dan berkata ” Hai Bapa’, ternyata sebagai guru Bapa’ tak adil pada murid-muridnya! Mengapa ilmu yang Bapa’ berikan pada Jamil lebih dari saya? Padahal kami berguru pada saat yang sama dan pada guru yang sama pula!”

Pertapa tua itu tak menjawab , tapi ia menyuruh seorang cantriknya memanggil Jamil menghadap. Setelah datang menghadap barulah pertapa Sanjaya bertanya, ” Hai, Jamal, apa yang menjadi masalah sehingga engkau mengatakan aku tak adil?”

Maka sambil melirik jengkel pada Jamil, Jamal-pun menceritakan segala dugaan yang dikatakan oleh Jamil tentang kondisi gajah yang ternyata adalah benar. Lalu dengan lembut Sanjaya bertanya pada Jamil,” Betulkah apa yang dikatakan sahabatmu itu Jamil?”

”Betul Bapa’,” jawab Jamil singkat.

”Mengapa kau bisa tahu tentang kondisi gajah itu dari hanya melihat jejaknya saja, karena seingatku, aku tak pernah mengaajarkannya?” Tanya pendeta tua itu lagi.

” Murid mengetahui kondisi gajah itu cacat kaki kirinya karena terlihat jejak kaki kirinya tidaklah sedalam jejak kaki kanan gajah itu, lalu murid juga menduga gajah itu buta mata kirinya karena pada batang pohon yang ada disepanjang jalan gajah itu tergores oleh gadingnya, sedangkan murid bisa menduga tinggi gajah itu dengan melihat tinggi goresan gading itu sehingga bisa memperkirakan tinggi keseluruhan dari gajah itu, ” kata Jamil menjelaskan jawabannya.

”Aku tak pernah mengajarkan tentang itu wahai muridku, apa kau punya guru selain aku?” tanya Sanjaya.

Maka Jamil menjawab,” Ampun Bapa’, tidak sekali-kalinya murid mengambil guru selain Bapa’. Hanya saja apa yang telah Bapa’ ajarkan tidaklah sekedar murid hapal saja di dalam otak, tetapi murid mencoba untuk mengerti dan memahami, serta mendalami dari apa yang Bapa’ ajarkan kemudian mengembangkannya, sehingga murid bisa tahu kondisi gajah itu hanya dengan melihat jejak-jejak yang ditinggalkannya.”

Sang pendeta hanya tersenyum dan mengangguk seraya menatap tajam pada Jamal yang jadi salah tingkah karena jawaban dari Jamil itu.

Dari cerita di atas dapatlah kita tarik suatu kesimpulan, jika kita mempelajari sesuatu janganlah secara mentah-mentah kita terima begitu saja dan kita simpan diotak tanpa diolah lebih lanjut sehingga sekedar menjadi hapalan saja. Tetapi jika kita ingin maju, maka mulailah untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi ilmu pengetahuan yang kita terima itu sehingga bisa kita kembangkan seluas-luasnya sehingga menjadi satu wawasan baru bagi kita.


12 CommentsChronological   Reverse   Threaded
kaptenpanda wrote on Jul 8
he...he..he...he..... bagus....bagus... berarti setelah punya ilmu, tetep harus analisis dan sintesis to Pakdhe. sipp.... <iipsmiley>
slee0904 wrote on Jul 8
Kedengarannya seperti kurikulum pendidikan di Indonesia ya, anak2 gak diajarkan kreatifitas, kebawa sampai dewasa (nyalain orang lain bisanya hihii...) :)
maspungky wrote on Jul 8
he...he..he...he..... bagus....bagus... berarti setelah punya ilmu, tetep harus analisis dan sintesis to Pakdhe. sipp.... <iipsmiley>
siap Kapten... betuuuullll banget... he he he he
maspungky wrote on Jul 8
Kedengarannya seperti kurikulum pendidikan di Indonesia ya, anak2 gak diajarkan kreatifitas, kebawa sampai dewasa (nyalain orang lain bisanya hihii...) :)
waduuuuhh... ketahuan yaaa... kalau aku nyindir pola pendidikan di Indonesia he he he he he
endangpage wrote on Jul 8
ya...betul banget..he..he..he..
maspungky wrote on Jul 8
ya...betul banget..he..he..he..
he he he... kalau Mbak Endang malah bisa membandingkan secara jelas dengan pola pendidikan di Belanda he he he he
endangpage wrote on Jul 8
trimakasih dik bambang...
maspungky wrote on Jul 8
trimakasih dik bambang...
sama-sama Mbak Endang
d33d wrote on Jul 24
Cerita yang menarik...
maspungky wrote on Jul 24
d33d said
Cerita yang menarik...
thank u...
noulpa wrote on Aug 20
dengan hanya melihat apa yg didepan mata maka jadilah orang yang kerdil pikiranya. hanyalah orang yg bijak yg mampu bersikap sperti Jamil.....
maspungky wrote on Aug 20
noulpa said
dengan hanya melihat apa yg didepan mata maka jadilah orang yang kerdil pikiranya. hanyalah orang yg bijak yg mampu bersikap sperti Jamil.....
betul banget... tapi bidaya Indonesia sekarang sudah serba instany...maunya dijejelin saja... gak mau kreatif berfikir...
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 Sam Royama All rights reserved.