Blog EntryPerkelahian Lukman dan JaimJul 2, '08 5:20 AM
for everyone

                                    Oleh: Mas Bambang Purnomo Sigit


 Di siang hari yang panas, tampaklah dua orang sahabat, sebut saja Lukman dan Jaim sedang berteduh dibawah naungan pohon rindang di tepi jalan desa. Mereka beristirahat setelah berjalan jauh dibawah terik matahari. Sambil menyantap bekal dengan riang mereka bersenda gurau. Tak lama kemudian lewatlah seorang petani tua yang sedang menuntun seekor kerbau. Petani tua itu masih tampak gagah dengan kumis baplangnya melintang rapih diatas bibirnya terpilin melengkung menghadap keatas kedua ujungnya, sedangkan sang kerbau yang dituntunnya tampak gemuk dan memiliki sepasang tanduk yang kokoh, hanya sayangnya ujung tanduk kirinya terlihat patah. Lukman sangat terkesan dengan penampilan si petani, tetapi Jaim sangat terkesan dengan kerbau si petani.

Sesaat kedua sahabat itu berhenti berbicara, memperhatikan petani dan kerbaunya itu, sampai menghilang diujung jalan. Sejenak dalam keheningan, tiba-tiba Lukman berkata,” Wah... gagah sekali!” Dia mengomentari kegagahan penampilan si petani tadi. Maka kemudian Jaim menyahut,” Iya tuh gagah sekali.” Jaim masih terkesan dengan gemuknya si kerbau tadi. ” Kamu lihat kan ... besar sekali....”, kata Lukman lagi yang sejak tadi terpesona dengan kumis si petani. ” Iya, lengkungannya juga bagus,” tambah Jaim, mengomentari bentuk tanduk kerbau tersebut. ” Betul...sempurna sekali,” kata Lukman yang mengira Jaim mengomentari bentuk kumis petani. ” Aaaahhh tidak juga... apa kamu tadi tak melihat ujung kirinya patah....” kata si Jaim. ” Eh... apa matamu buta? Kedua ujungnya runcing sekali!” Sanggah Lukman. ” Matamulah yang buta! Aku melihat dengan jelas sekali!” Balas Jaim yang menjadi panas hatinya karena kata-kata Lukman. Maka setelah itu cerita ini ditutup dengan baku hantam kedua sahabat tersebut.

 

Mungkin sekali kejadian ini bukan hanya menimpa Lukman dan Jaim saja. Mungkin kita pernah mengalami hal ini, sehingga persahabatan, pertemanan, bahkan percintaan bubar karena ketidak-samaan obyek pembicaraan. Acap kali kita memperdebatkan dua obyek yang berbeda tanpa terlebih dahulu menyatukan persepsi terhadap obyek pembicaraan yang ada, karena asumsi masing-masing pihak adalah pihak yang lain mengerti apa yang akan dibicarakan. Hal inilah salah satu penyebab komunikasi interpersonal tidak berjalan dengan baik. Cara menghindarinya adalah dengan terlebih dahulu mendengarkan dengan seksama apa yang sedang dibicarakan oleh si lawan bicaranya. Kalau perlu tanyakan dahulu apa yang menjadi obyek pembicaraan, atau jika kita yang memulai berbicara, sebaiknya katakan dahulu apa obyek pembicaraan kita tersebut. Biasakan diri kita menjadi pembicara ataupun menjadi pendengar yang baik sehingga kesalahan persepsi terhadap obyek pembicaraan bisa terhindari.


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 Sam Royama All rights reserved.