Oleh: Mas Bambang Purnomo Sigit

Kira-kira 16 tahun yang lalu saya mendapatkan suatu nasehat berbau filosofi dari sahabat saya Gunawan Wicaksono. Nasehat berupa cerita ini sangatlah membekas dalam hati saya hingga kini. Beginilah ceritanya.
Disuatu kota kecil ada akan diadakan lomba lari keliling kota tahunan yang rutin diadakan setahun sekali. Hal ini merupakan moment yang paling ditunggu-tunggu oleh segenap warga kota, terutama sekali oleh kalangan pemuda di kota itu. Setiap pemuda mengimpikan dirinya menjadi pemenang dalam lomba tersebut, terutama sekali Joy seorang pemuda berbadan tegap yang sudah memenangkannya tiga kali berturut-turut dan karena itu juga ia menjadi idola para gadis-gadis di kota tersebut.
Tiap pemuda di kota itu berlatih keras menjelang perlombaan itu dengan harapan bisa mengalahkan Joy. Karena mereka tahu pasti, jika bisa menjadi juara di lomba itu selain mendapatkan hadiah uang jutaan rupiah juga akan menarik perhatian gadis-gadis cantik di kota tersebut.
Sehari menjelang hari perlombaan, panitia sibuk sekali mengurus pendaftaran bagi peserta yang jumlahnya mencapai ratusan orang. Pada saat hari menjelang malam ketika pendaftaran lomba itu akan ditutup, munculah seorang pemuda dengan langkah terseok-seok karena kakinya terkena polio menghampiri meja pendaftaran. Yan nama pemuda itu. Ia ternyata ingin mendaftarkan diri menjadi peserta lomba lari tersebut. Pak Roy sang ketua panitia terheran-heran mendengar keinginan Yan, karena dengan kondisinya maka mustahilah si Yan akan menjadi pemenang lomba tersebut. Pak Roy menyarankan Yan untuk tak mengikuti lomba itu, dijelaskan pula bahwa mustahil Yan bisa berlari, sedangkan untuk berjalan saja ia terseok-seok. Dijelaskan pula pada Yan betapa medan yang harus ditempuh sangatlah berat, karena jalanan di kota tersebut naik turun.
Tapi Yan hanya tersenyum lembut, dan dia berkata ingin tetap mengikuti lomba tersebut. Pak Roy hanya bisa mengangkat bahu dan dengan malas diserahkannya formulir isian itu kepada Yan untuk diisi.
Keesokan harinya saat lomba diadakan, peserta dan penonton memadati alun-alun kota tempat garis start dan finish lomba itu diadakan, dan mereka saling berbisik-bisik saat meliha Yan juga menjadi peserta lomba itu. Tepat jam tujuh Pak Walikota mengibarkan bendera start, dan serempak pula peserta lomba itu berlarian. Dan dapat ditebak Yan dengan terseok-seok tertinggal dari peserta lainnya.
Kira-kira tiga jam kemudian, munculah Joy dari kejauhan menuju garis finish disusul beberapa ratus meter dibelakangnya oleh peserta yang lain. Satu-persatu selama satu jam peserta-peserta yang lain memasuki garis finish dengan wajah penuh kekecewaan karena tak mampu mengalahkan Joy. Ternyata masih ada satu peserta yang belum masuk garis finish yaitu Yan. Ia baru bisa menuju garis finish dua jam setelah peserta terakhir sebelumnya sampai. Dari kejauhan perlahan-lahan ia menuju garis finish, sementara para penonton, panitia, maupun walikota melihat dengan berdebar-debar, dan akhirnya kaki timpangnya menginjak garis tersebut disertai dengan senyum lebar tanda bahagianya. Bersamaan itu pulalah semua orang bertepuk tangan keras bahkan lebih keras daripada saat Joy mencapai garis finish dua jam yang lalu. Mengapa mereka bertepuk tangan buat Yan? Hanya satu alasan yaitu warga kota telah menemukan pemenang baru tanpa mahkota juara untuk lomba kali ini yaitu Yan, yang dengan gigihnya berjuang dengan segala keterbatasannya untuk mengalahkan dirinya sendiri. Yan berhasil mengalahkan dirinya sendiri, karena itulah target utamanya, bukan uang hadiah jutaan rupiah atau ciuman dari para gadis cantik. Targetnya hanya satu dia tak ingin menyerah dengan keadaan yang ada, dan lomba itu hanyalah sarana untuk membuktikan kebulatan niat dan tekadnya tersebut. Dan satu hal yang jelas adalah komitmennya untuk menyelesaikan lomba tersebut sampai garis finish walaupun harus jauh tertinggal oleh peserta yang lain.
Dari kisah inilah saya sadari betapa seringnya saya iri terhadap keberhasilan orang lain dan measa gagal dalam hidup ini karena bercermin dari keberhasilan orang lain. Yang saya lupakan adalah bahwa saya tak sama dengan orang lain, dan mempunyai kemampuan, target keberhasilan dan sisi perjuangan yang berbeda dari orang lain. Tinggal bagaimana saya mampu memahami diri dengan keterbatasan yang ada, serta memasang target yang sesuai dengan kemampuan saya dan saya harus punya komitmen untuk mencapainya, sehingga saya bisa sukses menjadi pemenang dalam kehidupan saya sendiri, bukan dalam kehdupan orang lain!