oleh : Mas Bambang Purnomo Sigit, SH, MM

 

Kemajuan yang pesat dalam teknologi informasi dan telekomunikasi seperti komputer, internet, satelit, dan sebagainya menghilangkan pengaruh jarak sehingga hubungan antar manusia dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. Banyak sekali keuntungan yang dapat diraih, antara lain: penggunaan bahan bakar untuk transportasi berkurang, penggunaan bahan-bahan baku seperti timah, tembaga juga menurun. Keadaan pasar dapat diketahui secara instant. Hal ini dapat merubah pola penggunaan dan distribusi dari komoditi-komoditi tersebut. Dengan adanya kondisi ini, cara-cara bisnis tradisional telah beralih menjadi bisnis digital. Tentu saja hal ini akan mempengaruhi kondisi ketahanan nasional di bidang ekonomi Indonesia yang penerapannya harus mendapatkan dukungan penuh dari rakyat Indonesia. Untuk itulah perlu didesain ulang aspek-aspek ketahanan nasional Indonesia disesuaikan dengan kondisi global saat ini. Karena peran pemerintah dan segenap rakyat Indonesia-lah yang menentukan ketahanan nasional Indonesia terutama di bidang ekonomi untuk mencapai tujuan bangsa dan negara ini.

 

A.      Pendahuluan

 

Kemajuan teknologi di bidang teknologi informasi dan telekomunikasi juga berdampak dalam tatanan ekonomi dunia. Karena pertukaran informasi dan komunikasi hampir tanpa hambatan maka kondisi pasar di dunia dapat secara serentak dan cepat dapat diketahui. Hal ini dimanfaatkan betul oleh negara-negara maju untuk melempar barang-barang produksi industrinya dengan cepat, begitu pula untuk mendapatkan bahan bakar yang diperlukan.  Dampaknya adalah harga-harga dapat ditekan lebih rendah. Hal ini jelas tidaklah menguntungkan bagi negara-negara yang awam dalam menggunakan teknologi ini.  Contoh yang paling sederhana adalah dengan adanya telepon yang berakibat menurunnya penggunaan bahan bakar atau biaya transportasi bolak-balik yang sebelumnya harus dikeluarkan untuk kepentingan komunikasi.

 Dalam dunia perdagangan global saat ini, transaksi elektronis adalah suatu hal yang tidak mungkin terhindarkan. Electronic Commerce (E-Commerce) adalah suatu contoh produk dari kemajuan Teknologi Informasi,dimana transaksi bisnis tidak lagi dilakukan secara konvensional, yang mengharuskan pembeli berinteraksi langsung dengan penjual (secara fisik)  atau adanya keharusan menggunakan uang tunai (cash). Tetapi penjual diwakili oleh suatu sistem yang melayani pembeli  secara on-line dengan melalui media jaringan komputer atau internet. Dalam melakukan transaksi, pembeli “berhadapan” dan berkomunikasi dengan sistem yang “mewakili” penjual.

 Era perdagangan global membutuhkan dukungan Digital Economy yang tercermin dengan lahirnya aktivitas perdagangan secara elektronis (Electronic trading), dalam berbagai bentuk kegiatan seperti : perdagangan retail, pelelangan barang, penawaran jasa, dan sebagainya. Sebagai konsekwensinya, toko tradisional digantikan oleh toko elektronis yang dikenal dengan nama : Cyberstore, Virtual Store, Digital Market, Electronic Mall, dan sebagainya. Pertumbuhan Digital economy ini tentunya memberikan dampak positip maupun negatip terhadap kehidupan ekonomi global yang tidak lagi mengenal batas teritorial suatu negara, hal ini sesuai dengan semangat dari WTO (World Trade Organization). Hal ini pulalah yang disinggung oleh Alvin Tofler dalam gelombang budayanya menyebutkan tahap perubahan tingkat budaya suatu masyarakat, yaitu:

a.  Agriculture, bercirikan sebagai kehidupan masyarakat petani yang hidup dari  alam yang subur sehingga hanya sedikit masalah yang harus dipecahkannya.

b.  Industri,   semakin banyaknya populasi dan semakin berkurangnya sumber daya alam yang ada sangat mempengaruhi daya kreatifitas manusia untuk memecahkan masalah kebutuhan fiilnya, sehingga berkembangnya industri dalam rangka memaksimalkan pengolahan sumber daya alam yang ada. Dalam kondisi ini manusia menjadi semakin individual karena saling berebut alat pemuas kebutuhannya.

c. Informasi,  Semakin bertambahnya populasi manusia, semakin sedikit pula sumber daya yang tersedia menyebabkan kelompok masyarakat harus mencari sumber dari wilayah kelompok masyarakat yang lain. Keadaan inilah yang menyebabkan manusia saling berlomba mencari dan bertukar informasi tentang sumber pemenuhan kebutuhannya.

d.  Demokratisasi/Internasionalisasi/ Globalisasi, adalah tahap kesadaran manusia sebagai makhluk sosial yang hidupnya sangat tergantung pada manusia yang lain dalam rangka pemenuhan kebutuhannya, maka batas kelompok masyarakat sudah sangat meluas keseluruh penjuru dunia, pertukaran informasi berubah menjadi proses kerjasama saling menguntungkan dari setiap manusia maupun kelompok masyarakat. Masyarakat tidak lagi terikat dalam satu kelompok masyarakat diwilayah tertentu, karena kelompok baru yang terbentuk bukan berdasarkan batas wilayah yang ada, tetapi pada kesamaan kepentingan.

 

 

  1. Dampak Globalisasi Bagi Suatu Negara, Megatrend Asia dan Konsep Strategi Pembangunan Nasional di Indonesia

 

a.  Dampak Globalisasi Bagi Suatu Negara

Dampak pertama globalisasi adalah menurunnya dampak lokasi, dan itu memungkinkan perusahaan-perusahaan internasional memperoleh keunggulan terhadap perusahaan-perusahaan yang masih terpaku pada orientasi domestik. Globalisasi sendiri menyajikan  keunggulan, karena dengan demikian berbagai perusahaan internasional memiliki kemampuan untuk memanfaatkan dan memobilisasikan masukan dan aset melewati batas nasional.

Perubahan fundamental dalam teknologi dapat memiliki dampak yang luar biasa pada arti penting lokasi geografis. Karena perubahan-perubahan teknologi mengurangi arti penting aspek-aspek tertentu dari lokasi, aspek-aspek geografis sudah tak lagi menjadi keunggulan persaingan. Batas, ruang, waktu, dan biaya telah melebur dalam teknologi yang ada sekarang ini. Sebagai contoh, pada saat sekarang ini, dengan adanya teknologi internet, bermunculan perusahaan maya (virtual corparation), perusahaan ini hanya memiliki seorang CEO dan tak ada orang lain lagi, karena dengan adanya jaringan internet, semua orang bekerja di rumah sendiri.

Gery Hamel dalam tulisannya Menciptakan Basis Baru Bagi Persaingan menyatakan bahwa persaingan di era globalisasi ini bukan lagi persaingan antara negara-bangsa, tetapi lebih merupakan persaingan antarperusahaan. Lester Thurow menyatakan ada lima perubahan besar di bidang ekonomi global pada era ini, yaitu:

a.                   Tamatnya riwayat komunisme, dalam hal ini dapat dilihat dari banyak negara yang melakukan pergeseran dari ideologi komunisme menjadi ideologi kapitalisme,

b.                  Terjadi pergeseran industri dari industri berdasarkan sumber daya alam menjadi industri kekuatan otak buatan manusia,

c.                   Secara demografi penduduk dunia sedang mengalami pertumbuhan, yang menyebabkan perubahan tata sosiologi, psikologi, bisnis, anggaran pemerintah dan sebagainya,

d.                  Terjadi ekonomi global sehingga manusia dapat memproduksi apa saja di muka bumi ini dan menjualnya  di mana saja di muka bumi ini,

e.                   Dunia tidak lagi berkutub tunggal pada satu kekuatan ekonomi, politik atau militer yang dominan. Dalam era globalisasi sekarang ini peran birokrasi dan negara tak lagi dominan karena peran utama dalam kegitan ekonomi  sebagai kunci  kegiatan di segala bidang beralih ke individu pemilik modal. Jika kita tengok hubungan ideologi dan politik antara Amerika Serikat dan RRC sangatlah bertentangan, tetapi dalam bidang ekonomi terutama kegiatan bisnis, pengusaha Amerika Serikat banyak yang berinvestasi dan membuka usahanya di RRC, dan hal tersebut tak lagi bisa dihalangi oleh masalah diplomatik antara kedua negara.

Jika diasumsikan industri kekuatan otak buatan manusia adalah teknologi, maka menurut Peter Sange tidak semua teknologi bersifat mendorong perubahan kecuali teknologi yang menggerakkan informasi. Peran teknologi informasi adalah mempercepat pekerjaan manusia. Sehingga dalam perkembangan sekarang adalah menciptakan teknologi yang bisa sangat mempercepat pekerjaan sebagai bentuk inovasi guna memenangkan persaingan. Maka dapatlah diasumsikan bahwa siapa yang bisa memperoleh ataupun mengirim informasi paling cepatlah yang akan unggul dalam persaingan. Sehingga dapat disimpulkan pula kemampuan intelektual sumber daya manusia yang menentukan perkembangan ekonomi suatu negara dan bukan sebaliknya.

 

b.  Megatrend Asia

Dengan adanya globalisasi maka secara langsung juga mengubah wajah dunia. Khususnya untuk wilayah Asia menurut John Naisbitt terjadi delapan pergeseran besar :

1.                  Pergeseran dari negara-negara bangsa ke jaringan-jaringan, secara perlahan-lahan paham mengenai negara bangsa, yang  dulunya di kawasan Asia didominasi oleh Jepang kini telah bergeser menjadi kawasan yang digerakkan oleh jaringan Cina Perantauan, yang sekitar 5,4 juta di antara mereka hidup di luar RRC dan menetap di negara-negara Asia yang lain. Setiap keluarga adalah wiraswasta yang otonom, dan disetiap keluarga itu merupakan jaringan dari perusahaan-perusahaan yang apabila disatukan akan menjadi suatu jaringan yang besar. Mereka bekerja masing-masing untuk yang lainnya sebagai bagian dari jaringan, tetapi disaat yang sama berfungsi sebagai individu dan unit-unit yang efisien. Jadi dalam hal ini bukanlah negara bangsa Cina (RRC) yang mendominasi Asia, tetapi jaringan Cina Perantauan. Sehingga dalam hal ini yang penting bukanlah perkara negara mana yang akan bekarjasama dengan RRC, tetapi justru adalah wiraswastawan mana, serta segman Cina mana yang bekerjasama dengan Cina perantauan tersebut, dengan kata lain nasionalisme sudah tidak dibingkai oleh wilayah geografis negara lagi, tetapi pada satu tujuan yang sama yaitu pemenuhan kebutuhan individu-individu yang ada dalam jaringan tersebut. Hal ini tak berbeda dengan jaringan internet, yang terdiri dari jaringan-jaringan yang terhubung pula dengan sebuah jaringan yang juga masih terhubungkan pada jaringan-jaringan yang lain. Dan alasan mengapa internet dapat berkembang begitu besar diakibatkan karena didesentralisasikan secara total sampai individu-individu.

2.                  Pergeseran dari ekonomi yang didorong oleh tuntutan ekspor ke ekonomi yang didorong oleh tuntutan konsumen. Dengan semakain tinggi nilai ekspor suatu negara maka hal yang terjadi adalah semakin tinggi pula tingkat konsumtif rakyatnya.

3.                  Pergeseran dari pengaruh Barat ke cara Asia. Dengan adanya ledakan kegiatan ekonomi yang ada sekarang menyebabkan terjadinya perubahan dalam hal tradisi, yang semula didominasi oleh ritual tradisi yang tetap menjadi kesadaran adanya banyak pilihan dalam segala hal, misalnya saja jenis pemerintahan yang paling tepat.

4.                  Pergeseran dari ekonomi yang dikontrol oleh pemerintah menjadi ekonomi yang didorong oleh tuntutan pasar.

5.                  Pergeseran dari desa-desa menjadi kota-kota besar. Hal ini diakibatkan karena perubahan dari ekonomi pertanian yang padat karya menjadi ekonomi  manufaktur dan jasa.

6.                  Pergeseran dari ekonomi padat karya menjadi ekonomi berteknologi canggih, ini berarti bahwa semakin berkurangnya tenaga manusia pada produk-produk manufaktur, sehingga Asia yang semula memiliki keunggulan sebagai negara penyedia tenaga kerja murah menjadi ketinggalan jaman.

7.                  Pergeseran dari dominasi pria ke munculnya kekuatan wanita.

8.                  Pergeseran dari Barat ke Timur, yang artinya munculnya kembali Timur sebagai pusat dunia, dimana Asia akan menjadi kawasan dominan di segala bidang, baik politik, ekonomi, budaya dan lain-lain.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Apabila Indonesia tidak mendesain ulang langkah strategisnya dalam mencapai tujuan nasional yaitu penciptaan kesejahteraan untuk seluruh rakyat, maka yang terjadi adalah bangsa ini akan jauh ketinggalan dari bangsa Asia yang lain.

 

c.  Konsep Strategi Pembangunan Nasional di Indonesia

Negara Indonesia tampaknya harus mendefinisikan ulang konsep Tri Gatra dan Panca Gatra  yang selama ini menjadi pedoman pembangunan nasional. Dalam Tri Gatra sebagai faktor alamiah: pertama,  bangsa Indonesia sampai dengan saat ini masih menempatkan keunggulan letak geografi Indonesia sebagai lalu lintas perdagangan dunia karena terletak pada posisi silang antara dua samudera dan dua benua. Untuk beberapa hal memang masih menguntungkan, tetapi cara produksi yang terjadi di era globalisasi sudah berubah sama sekali, pengusaha sudah tidak memproduksi barang di negaranya sendiri, tetapi justru memproduksi di negara tempat pangsa pasarnya berada. Maka secara otomatis tidak terjadi lagi pengiriman besar-besaran melintasi selat dan laut di Indonesia. Kedua: sumber kekayaan alam Indonesia. Sampai dengan saat ini Indonesia termasuk salah satu negara dengan kekayaan alam yang luar biasa, dan inilah yang masih menjadi daya jual dari bangsa Indonesia, tapi walau begitu kekayaan alam Indonesiapun adalah terbatas suatu saat akan habis, sementara itu dengan adanya trend pergeseran dari industri pertanian menjadi industri manufaktur dan jasa maka hal ini bisa menjadi tantangan bagi bangsa Indonesia guna mengembangkan industri yang tidak semata-mata bertumpu pada keunggulan kekayaan alam semata, tetapi mencoba mengembangkan pada sektor yang lain. Ketiga: faktor sumber daya manusia, Pergeseran dari ekonomi padat karya menjadi ekonomi berteknologi canggih, ini berarti bahwa semakin berkurangnya tenaga manusia pada produk-produk manufaktur, sehingga Indonesia yang semula memiliki keunggulan sebagai negara penyedia tenaga kerja murah menjadi ketinggalan jaman. Dan patut disadari dari sejumlah besar tenaga kerja di Indonesia rata-rata bukanlah tenaga kerja yang lebih mengedepankan kemampuan intelektual, sementara itu tenaga kerja dengan kemampuan intelektual tak banyak yang memiliki jiwa kewiraswastaan. Hasilnya adalah semakin banyak jumlah pengangguran di usia kerja.

Sedangkan dari segi sosial (Panca Gatra): pertama, faktor ideologi: dengan kemenangan ideologi kapitalisme-liberalisme ternyata berpengaruh juga bagi penerapan ideologi Pancasila. Perlahan-lahan Pancasila sebagai ideologi negara bangsa condong pada ideologi kapitalisme-liberalisme. Jika penyerapan ideologi ini terjadi secara penuh, akan berakibat pada tidak tercapainya tujuan dari negara dan bangsa Indonesia, yaitu keadilan sosial, kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyat Indonesia. Sebetulnya hal ini bisa disiasati dengan memunculkan rasa nasionalisme kebangsaan yang kuat. Sebagai contohnya para Cina Perantauan, walaupun mereka tidak berada di RRC yang menganut ideologi komunisme, tetapi semangat untuk bersama-sama membangun kesejahteraan justru muncul dalam bentuk jaringan-jaringan. Kedua: politik. Politik Indonesia sampai dengan saat ini dikontrol penuh oleh pemerintah. Sedangkan tren yang terjadi adalah pergeseran dari ekonomi yang dikontrol oleh pemerintah menjadi ekonomi yang didorong oleh tuntutan pasar. Dalam hal ini pemerintah perlu mengambil langkah-langkah setrategis terutama untuk politik dalam negeri dan politik ekonomi yang mendorong sistem pemberdayaan ekonomi rakyat Indonesia, karena pelaku pasar sesungguhnya adalah rakyat sendiri, sehingga perlu banyak dimunculkan kebijakan pemerintah yang mengarah pada pertumbuhan dan perkembangan jiwa wiraswasta rakyat. Ketiga: faktor ekonomi, terjadi pergeseran dari ekonomi padat karya menjadi ekonomi berteknologi canggih, yang secara otomatis akan mengurangi jumlah tenaga kerja secara besar-besaran, guna menghindari terjadinya angka pengangguran yang banyak, kebijakan ekonomi sebaiknya mengacu kepada kebijakan ekonomi pemberdayaan masyarakat terutama dalam bidang teknologi, sehingga kelak akan mampu menciptakan jaringan-jaringan bisnis yang kuat. Keempat: faktor sosial budaya, faktor ini secara langsung berubah seiring dengan munculnya budaya baru yaitu budaya internasionalisme/ globalisasi. Dengan adanya budaya baru itu, terjadi suatu pergeseran sosial budaya yang semula bersifat regional menjadi bersifat internasional. Jika lompatan budaya terlalu jauh, dapat mengakibatkan satu masalah besar, yaitu ketidaksiapan bangsa Indonesia dalam mengolah dan mencerna budaya tersebut. Akibat yang dapat kita lihat sekarang ini adalah prilaku konsumtif yang mengakibatkan rakyat Indonesia terdorong menjadi sasaran pangsa pasar dari negara-negara berteknologi maju, tanpa mampu menciptakan teknologi itu sendiri.  Kelima: Faktor pertahanan dan keamanan. Faktor ini adalah faktor kunci dalam mempertahankan dan mengamankan negara, sedangkan faktor yang paling dominan dalam hal mempertahankan stabilitas negara adalah faktor ekonomi.  Sehingga secara tak langsung pula negara wajib memberikan perlindungan bagi warganya di bidang ekonomi.

Berbagai pendekatan dalam membangun masyarakat di Indonesia telah banyak dikembangkan, pendekatan yang umum digunakan di Indonesia adalah pendekatan dari atas (top-down approach) berdasarkan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang digariskan oleh pemerintah dengan bertumpu pada jalur-jalur birokrasi yang ada. Untuk keperluan evaluasi dari berbagai proyek / program yang berjalan berbagai target dicanangkan pada batasan waktu yang telah ditentukan. Hal yang logis terjadi dalam sistematika pembangunan dari atas, banyaknya proyek / program yang berjalan untuk mengejar target-target tersebut. Pendekatan dari atas tidak terlalu menjadi masalah jika kita membangun sarana fisik. Dalam membangun masyarakat (manusia), hal yang menjadi penting bukan lagi tercapainya target akan tetapi justru kesinambungan (sustainable) dari program / proyek yang berjalan tadi. Evaluasi yang objektif harus dilakukan beberapa tahun setelah program berakhir, seberapa jauh masyarakat terus membangun sesuai dengan target yang ditentukan dalam program sebelumnya. Berbagai penelitian di perguruan tinggi / lembaga penelitian sosial di Indonesia banyak ditujukan untuk mencari alternatif-alternatif pendekatan untuk membangun yang sifatnya justru membangkitkan partisipasi aktif masyarakat dalam berperan serta untuk membangun dirinya sendiri dengan dukungan minimal dari atas. Berbeda dengan pendekatan sebelumnya, pendekatan yang dilakukan oleh para peneliti ini ternyata lebih banyak bertumpu pada pendekatan dari bawah (bottom-up approach) dan partisipasi aktif masyarakat. Karena pendekatan dari bawah memang bertumpu pada motivasi dan partisipasi aktif masyarakat, akhirnya kesinambungan pembangunan memang dapat dijaga lebih baik daripada pendekatan dari atas. Peneliti-peneliti muda yang berdedikasi ternyata cukup banyak dan tersebar di berbagai perguruan tinggi maupun industri di Indonesia. Didorong oleh kemauan dan dedikasi untuk membangun Indonesia, mereka merasakan betapa pentingnya membentuk jaringan komputer sebagai pra-sarana utama untuk berdiskusi dan bertukar pikiran yang pada akhirnya mengarah pada kerjasama-kerjasama antar lembaga maupun kemungkinan untuk mengembangkan teknologi di industri Indonesia bertumpu pada penelitian di perguruan tinggi untuk pembangunan di Indonesia. Berbeda dengan program / kebijaksanaan yang umum berjalan di Indonesia, proses pengembangan jaringan komputer ini lebih banyak bertumpu pada inisiatif dan dedikasi para peneliti .

 

 

  1. Perkembangan Pengguna Internet dan Peran Multimedia Di Era Globalisasi

 

a.  Perkembangan Pengguna Internet

Internet adalah jaringan global yang terdiri dari ratusan bahkan ribuan komputer termasuk jaringan-jaringan lokal, komputer-komputer ini terhubung menjadi satu. Jaringan ialah sekelompok komputer yang saling dihubungkan dengan peralatan tertentu sehingga dapat saling bertukar informasi dan menggunakan sarana/ program secara bersama-sama. Internet berasal dari bahasa latin inter yang berarti ”antara”. Secara kata per-kata Internet berarti jaringan antara atau penghubung. Internet menghubungkan berbagai jaringan yang tidak saling bergantung pada satu sama lain sedemikian rupa, sehingga mereka dapat berkomunikasi. Internet intinya sebagai sarana untuk menyebarkan informasi dengan biaya yang murah. Selain itu dapat dipergunakan untuk mempertemukan dua orang atau lebih dari jarak yang jauh dalam waktu yang bersamaan.

 

 

Data statistik pengguna internet di berbagai benua di dunia

 

Dari hasil survey statistik di atas ternyata Asia menduduki tempat pertama dalam penggunaan internet disusul dengan Afrika dan Eropa. Sementara itu, Tim Computer Network ITB pada tahun 1996 mencatat jumlah pemakai internet di Indonesia mencapai 25.000 – 30.000 orang. Jumlah itu meningkat menjadi ± 800 ribu orang pada tahun 1999 (Priyatmo, Kompas 12 Maret 2000). Menurut data APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia), jumlah tersebut meningkat tajam menjadi sekitar 2 juta orang pada akhir tahun 2000 (Bisnis Indonesia, 4 Februari 2002). Pada akhir 2006, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 18 juta orang. Menurut Dirut PT Telkom, Arwin Rasyid, dengan jumlah pengguna internet sebesar 18 juta, pengguna internet di Indonesia menjadi yang terbesar di kawasan Asia. Dari jumlah tersebut, di tahun 2007 ini, menurut Sylvia W. Sumarlin, Ketua Umum APJII, pengguna internet di Indonesia berpotensi untuk bertambah 5 juta menjadi 23 juta pengguna. Dan jumlah ini akan terus melonjak, diperkirakan mencapai 60 juta pengguna pada tahun 2010 (www.republika.co.id, 1 Maret 2007).

Berdasarkan pernyataan tersebut di atas bahwa pengguna internet di Indonesia menjadi yang terbesar di kawasan Asia, sedangkan kawasan Asia sendiri merupakan pengguna internet terbesar di dunia, yakni sebesar 36 % dari jumlah seluruh pengguna Internet di dunia, maka pangsa pasar pengguna internet di Indonesia sangat potensial dan strategis.

 

 

 

Internet memiliki peran yang sangat strategis dalam kehidupan di era informasi seperti sekarang ini. Umumnya masyarakat mengakses internet untuk beberapa kepentingan, antara lain :

1. Mengakses informasi/berita di berbagai bidang,

2. Surat-menyurat elektronik melalui e-mail,

3. Melakukan transaksi bisnis / perdagangan (e-commerce / valas trading),

4. Memasarkan produk (promosi),

5. Mencari data ilmiah, artikel, dan yang semacamnya,

6. Chatting,

7. Dan masih banyak lagi.

Setiap hari di dunia maya lahir ribuan situs-situs baru yang menyajikan berbagai macam hidangan dan jasa bagi para pengguna internet. Kita bisa mencari alamat situs-situs tersebut sesuai dengan kategori yang diinginkan dengan menggunakan search engines seperti Yahoo!, Google, Altavista, dan lain-lain. Dari sini kita bisa mencari informasi yang kita cari, baik berupa teks, gambar, video, audio, program software, game, dan jasa komputasional lainnya. Hampir bisa dikatakan semuanya ada di dunia maya ini.

 

b.  Peran Multimedia Di Era Globalisasi

Hofsteter mendefinisikan multimedia adalah pemanfaatan komputer untuk membuat, menggabungkan teks, grafik, audio, gambar bergerak (video dan animasi), dengan menggabungkan link dan tool yang memungkinkan pemakainya melakukan navigasi, berinteraksi, berkreasi dan berkomunikasi. Dalam definisi ini termuat empat komponen utama, yaitu:

a.                   Harus ada komputer sebagai alat mengkoordinasikan kegiatan dan sarana interaksi berkomunikasi,

b.                  Harus ada link yang menghubungkan kita dengan informasi,

c.                   Harus ada alat navigasi sebagai pemandu dalam jaringan informasi yang saling berhubungan,

d.                  Multimedia harus menyediakan tempat untuk mengumpulkan, memproses, dan mengkomunikasikan informasi dan ide kita sendiri.

Maka dari keempat unsur diatas dapatlah dapat disimpulkan bahwa multimedia adalah merupakan penggabungan/konvergensi teknologi informasi dan teknologi telekomunikasi. 

Perkembangan multimedia mengikuti perkembangan internet sehingga multimedia merupakan pasar yang pertumbuhannya tercepat di dunia. Morgan Stanley menyebutkan bahwa untuk dapat dinikmati 50 juta penduduk Amerika radio membutuhkan waktu 38 tahun, televisi membutuhkan waktu 13 tahun, TV kabel membutuhkan waktu 10 tahun, sedangkan internet hanya membutuhkan waktu 5 tahun. Pada saat ini, internet menghubungkan  ratusan ribu jaringan berbeda dari lebih 200 negara diseluruh dunia. Lebih dari 400 juta orang bekerja dalam bidang pengetahuan, pendidikan, pemerintahan, dan bisnis dengan menggunakan internet untuk bertukar informasi atau membuat transaksi bisnis dengan organisasi di seluruh dunia. Pada akhir abad 20 hampir 2/3 rumah tangga di Amerika Serikat telah memiliki komputer dan hampir separuhnya telah terhubung dengan internet. Sedangkan untuk Indonesia, sampai dengan tahun 2003 telah 4 juta orang yang menikmati layanan internet.

Multimedia telah mendefinisikan ulang sistem komunikasi sebagai bagian yang nyata dari infrastruktur masyarakat. Multimedia memudahkan perusahaan melakukan merger dan aliansi, berkantor di rumah, home shopping, bisnis dan iklan, penerbitan elektronik, proses belajar mengajar, rekayasa ulang perusahaan, hingga sebagai alat pasar massa.

Dalam ekonomi global akan terdapat persaingan ketat, tetapi juga membutuhkan kerjasama global, karena jika sama-sama ingin meraih kemakmuran, harus bekerjasama dalam menciptakan ekonomi global yang berjalan dengan baik. Banyak perusahaan melakukan merger atau aliansi dengan perusahaan lainnya, bahkan dengan pesaingnya. Misalnya General Motor beraliansi dengan Ford Motor untuk mengeksploitasi aplikasi e-commerce multimedianya. Demikian pula ketika Microsoft bersama NBC Network menciptakan MSNBC. Dengan cepat mengalihkan pirsawan televisi menjadi pengguna on-line, kemudian layanan on-line itu menjadi kebiasaan masyarakat yang rutin dalam menonton televisi via internet.

Dalam bidang periklanan, iklan internet merupakan media yang dinamis, interaktif, dan dapat menjangkau sejumlah orang dengan biaya relatif murah. Termasuk pula dalam hal penerbitan koran, multimedia telah menghapuskan kebutuhan akan kertas. Dari berbagai contoh yang ada tentang ke-efektif dan ke-efisienan multimedia menunjukkan bahwa bidang ini merupakan primadona bisnis di era globalisasi sekarang ini.

 

 

  1. Model Ekonomi Jaringan Dalam Bidang Multimedia

 

Dalam kegiatan bisnis tradisional terdapat beberapa hambatan untuk maju dan berkembang, antara lain disebabkan karena:

1.                  Bisnis dibangun secara individual,

2.                  Jual beli dibatasi oleh waktu dan jarak yang sangat terbatas,

3.                  Diperlukan banyak tenaga kerja sehingga menjadi beban dari biaya penjualan,

4.                  Pembeli tidak dapat langsung mendapatkan data akurat dari barang/ jasa yang diinginkan,

5.                  Pembeli tidak terlayani secara optimal,

6.                  Dibutuhkan ruang yang besar serta lokasi yang strategis,

7.                  Tidak dapat dilaksanakan transaksi secara on-line.

8.                  Sulit untuk mendapatkan pelanggan baru.

Dalam persaingan bisnis saat ini tentu saja faktor biaya, kemudahan, tenaga kerja, serta jumlah pelanggan sangatlah menentukan, sehingga bisnis semacam ini secara perlahan akan mulai sepi pelanggan. Karena pelanggan lambat laun ingin mendapatkan pelayanan terbaik secara praktis, efektif dan efisien.

 

Tren bisnis pada saat sekarang ini adalah kegiatan e-commerce dengan menggunakan sarana multimedia yang biasanya berupa website. Ada beberapa hal yang menarik dari bisnis dengan menggunakan e-commerce ini.

1.                  Mengurangi pengeluaran, karena dapat mengurangi banyak sekali biaya yang seharusnya dikeluarkan dalam kegiatan bisnis tradisional. Misalnya berkurangnya biaya tenaga kerja, meminimalisasi biaya transportasi, berkurangnya biaya sewa kantor, dan lain sebagainya.

2.                  Mendapatkan pemasukan dari berbagai hal, misalnya: penjualan produk langsung secara on-line, pemberian layanan, biaya pendaftaran untuk informasi periodik atau informasi rujukan maupun layanan situs, menjual ruang iklan, menjual kesponsoran situs, menjual peletakan produk, memberikan perijinan seperti teks juga gambar dan lain sebagainya, serta menyediakan komunitas dalam bentuk situs atau bisnis ke bisnis serta membuat komisi mengenai penjualan.

3.                  Memperkuat hubungan pelanggan. Hubungan yang baik dengan pelanggan bisa menjurus pada penghasilan yang lebih banyak serta penurunan biaya promosi, dan upaya ini merupakan penghargaan kepada pelanggan. Disamping itu pelanggan diberikan berbagai kemudahan dalam mencari informasi serta membeli produk yang ditawarkan.

4.                  Mendukung bisnis. E-commerce memang tidak menunjukkan keuntungan langsung tapi akan memperkuat cakupan bisnis pada: penyediaan informasi perusahaan, memperpendek kisaran penjualan dengan cara memberikan informasi secara mendalam terhadap produk tersebut dan satu hal yang paling penting adalah meningkatkan hubungnan dengan kemitraan strategis, berbagi sumber daya, peningkatan sistem dan lain sebagainya.

 

 

Bentuk kerjasama ini masih bisa dikembangkan lagi menjadi model kemitraan yang diperluas seperti di bawah ini:

 

 

Dalam model kemitraan yang diperluas di atas ini, sebagai contoh terdapat suatu website yang menghubungkan beberapa bidang kegiatan sekaligus yang berkaitan dengan dunia pariwisata. Dalam web tersebut termuat link yang memberikan keleluasaan bagi pelanggan untuk mengakses informasi tempat wisata, sekaligus juga memberikan alternatif informasi hotel yang ada di tempat pariwisata itu termasuk juga penawaran tiket pesawat terbang secara on-line. Pada website yang sama pula agregator menawarkan dagangannya berupa cindera mata yang secara otomatis dapat dikirim melalui layanan pengiriman yang telah memiliki kerjasama dengan mereka, misalnya Fed-Ex  atau UPS.

Hal ini tepat sekali bagi Indonesia yang memiliki komoditas pariwisata sebagai salah satu unggulan devisanya.  Sistem jaringan pemasaran pariwisata yang ada bisa dikembangkan secara lebih luas dan terintegrasi, sehingga calon turis yang akan berkunjung ke Indonesia dapat mendapatkan informasi yang jelas, serta berbagai kemudahan dalam pengurusan penginapan maupun transportasi dengan sarana interaktif yang tersedia di website tersebut tanpa harus repot menelpon kesana-kemari lagi. Dengan keefisenan dan keefektifan pelayanan ini, maka akan berpengaruh pada kenyamanan pelanggan atas pelayanan yang ada. Hal inilah yang juga berdampak pada peningkatan jumlah pelanggan yang ada.

 

  1. Penutup

 

Indonesia memiliki jumlah penduduk ± 210 juta jiwa, dengan berbagai potensi yang belum sepenuhnya diolah baik dari segi sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Sangatlah disayangkan apabila di era globalisasi ini Indonesia nantinya akan menjadi negara sasaran produksi sekaligus konsumen bagi bangsa asing saja.

Untuk itulah perlu dikembangkan arah kebijakan pemerintah dalam hal pemberdayaan ekonomi masyarakat, yang berbasis pada teknologi yang ada. Berdasarkan pada analisa di atas terdapat potensi-potensi yang luar biasa dari Indonesia:

1.                  Meningkatkan nasionalisme yang tidak hanya terikat dalam skala teritorial/ regional belaka, tetapi memunculkan semangat jiwa nasionalisme di kalangang bangsa Indonesia dimanapun berada,

2.                  Kekayaan sumber daya alam, sebagai modal dasar yang apabila dikelola secara baik akan memunculkan keuntungan yang sangat besar bagi bangsa Indonesia,

3.                  Banyaknya sumber daya manusia, yang apabila terdidik dan terarahkan akan memiliki daya kreatifitas serta inovasi guna mengembangkan daya ekonomi jaringan kemitraan yang sangat luas bukan saja di Indonesia tetapi di seluruh dunia, peran pemerintah untuk memprakarsai terbentuknya jaringan ekonomi yang lebih banyak bertumpu pada pendekatan dari bawah (bottom-up approach) dan partisipasi aktif masyarakat

4.                  Penyerapan penggunaan internet yang sangat berkembang di Indonesia, sehingga dapat menjadi alat promosi sekaligus juga sebagai alat transaksi bisnis/ e-commerce yang efektif dan efisein, dan hal itu pula dapat menunjukkan bahwa bangsa Indonesia telah siap mengaplikasikan teknologi multimedia dalam kegiatan ekonominya.

5.                  Penggunaan jaringan internet dan multimedia dapat dimanfaatkan sebagai alat pemersatu jaringan bisnis bangsa Indonesia.

Apabila ke-empat hal tersebut di atas mampu dikelola secara terintegrasi oleh pemerintah Indonesia dengan melibatkan segenap rakyat Indonesia, maka dapat dipastikan bahwa kondisi ketahanan nasional Indonesia di bidang ekonomi akan mampu menghadapi gelombang globalisasi yang ada sekarang ini.

 

 

Daftar Pustaka:

Agung Setiawan, Pengantar Sistem Komputer, Informatika, Bandung, Oktober, 2004, edisi II

 

Agus Riyanto,  Pengembangan  Aplikasi Internet Untuk Masa Depan Indonesia Yang lebih Baik, http://www.benpinter.com/blog/category/internet/

 

Ahmad Bustami, Internet, HomeSite dan HTML, Dinastindo, Jakarta , 1999

 

C.S.T. Kansil, Prof, Drs, SH, Pendidikan Kewarganegaraan, PT Pradnya Paramita, Jakarta, 2002

 

Gibson, Rowan, Rethinking The Future, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2000

Keinan, Brenda, Small Business Solutions E-Commerce, PT Elex Media Komputindo, Jakarta, 2001

 

Mathias Nolden, alih bahasa Cori Tjoo, World Wide Web di Internet, PT Elexmedia Komputindo, Jakarta, 1996

 

M Suyanto, Multimedia - Alat Untuk Meningkatkan Keunggulan Bersaing, Penerbit Andi, Yogyakarta, 2003

 

Onno W. Purbo,  Membangun Dari Bawah Bertumpu Pada Jaringan Komputer, http://ictri.com/?cat=3

 

Purwanto Mardisewojo, Makalah Ilmiah:  Peranan Sumber Daya Alam Dalam Tatanan Ekonomi Baru (Globalisasi), Seminar Menata Perekonomiian Baru Dunia, 21 Nopember 1992


slee0904 wrote on Apr 22
Wow... nice makalah...:-)
maspungky wrote on Apr 22
Wow... nice makalah...:-)
thank you very much... harapanku sih... ini harus segera dimulai...
slee0904 wrote on Apr 22
thank you very much... harapanku sih... ini harus segera dimulai...
Hmmmm... kayaknya bisa2 10 thn ke depan juga berat... urusan stabilitas harga/urusan domestik yg mendasar saja tdk dapat diantisipasi/ditangani dgn baik, krn wakil2 rakyatnya masih mikirin kantong sendiri. Makanya perlu org2 spt Mas yg bisa kasih arahan ke pemerintah ;-) Sukses ya,
maspungky wrote on Apr 22
Hmmmm... kayaknya bisa2 10 thn ke depan juga berat... urusan stabilitas harga/urusan domestik yg mendasar saja tdk dapat diantisipasi/ditangani dgn baik, krn wakil2 rakyatnya masih mikirin kantong sendiri. Makanya perlu org2 spt Mas yg bisa kasih arahan ke pemerintah ;-) Sukses ya,
amieenn.... saya sekarang sedang membuat prototype ekonomi jaringan ini bersama mahasiswa-mahasiwa saya... do'a kan agar bisa sukses yaaa....
slee0904 wrote on Apr 22
amieenn.... saya sekarang sedang membuat prototype ekonomi jaringan ini bersama mahasiswa-mahasiwa saya... do'a kan agar bisa sukses yaaa....
pasti pasti di doain sama semua terutama komunitas MP ya... :-) Sukses, sukses...
kaptenpanda wrote on Apr 22, edited on Apr 22
4. Penyerapan penggunaan internet yang sangat berkembang di Indonesia, sehingga dapat menjadi alat promosi sekaligus juga sebagai alat transaksi bisnis/ e-commerce yang efektif dan efisein, dan hal itu pula dapat menunjukkan bahwa bangsa Indonesia telah siap mengaplikasikan teknologi multimedia dalam kegiatan ekonominya.

5. Penggunaan jaringan internet dan multimedia dapat dimanfaatkan sebagai alat pemersatu jaringan bisnis bangsa Indonesia.
persiapan buat seminar ya Om??
tapi bener gak seh, klo bisnis tradisional di Indonesa siap di e-commerce kan, soalnya calon konsumen kita khan banyak yang was² dan belum sepenuhnya percaya, akibat banyaknya trend penipuan, ky lewat sms, & lwt media lainnya.
No 5, saya setuju bangets deh
maspungky wrote on Apr 22
persiapan buat seminar ya Om??
tapi bener gak seh, klo bisnis tradisional di Indonesa siap di e-commerce kan, soalnya calon konsumen kita khan banyak yang was² dan belum sepenuhnya percaya, akibat banyaknya trend penipuan, ky lewat sms, & lwt media lainnya.
No 5, saya setuju bangets deh
he he he... sekedar iseng aja nulis neeehhh....
tentang kesiapan bangsa ini untuk e-commerce sebetulnya kita sudah siap... karena selama ini kan secara langsung tak langsung kita sudah terbiasa dengan transaksi elektronik... bahkan mungkin sudah mulai dibudayakan untuk hal itu... seperti penggunaan e-banking, bahkan kalau kita transaksi di beli kain di Tanah Abang saja pakai gesek Kartu Kredit atau ATM, bahkan belanja di supermarketpun orang sudah terbiasa dengan kartu debit. Melihat perkembangan penggunaan internet yang sudah mencapai 18 juta jiwa pada tahun 2007 dibanding dengan tahun 2003 yang hanya 4 juta jiwa, maka teknologi ini dengan mudah diserap dan diaplikasikan oleh orang kita, memang masalah cyber crime di Indonesia tak mungkin dimatikan, namanya juga kriminal, tetapi tanpa adanya kejadian-kejadian itu tak ada pelatihan bagi orang INdonesia untuk mengerti hal-hal yang tak logis di dunia maya ini. Nah, tugas pemerintah untuk menjamin keamanan pelaku bisnis ini.
Mengenai yang no.5 saya tergerak idenya karena adanya jaringan bisnis Cina perantauan yang akhirnya justru memunculkan semangat nasionalisme tinggi, nah dengan penggunaan internet yang lebih cepat dan lebih informatif, ekonomi jaringan Indonesia pun bisa lebih disempurnakan daripada jaringan Cina perantauan ini, hanya saja aku belum memasukkan kajian unsur psikologis, budaya urban dalam tulisan ini. Thank U atas komen-nya lho he he he he
larascoolcas wrote on Aug 25
maaf ya mas kalau artikelnya saya copy untuk data tambahan dalam laporan antara pekerjaan saya tentang "alih teknologi"

semoga... artikel yang saya copy ini memberikan banyak masukan dalam pengembangan ide-ide.

makasih ya mas, atas sumbangsih data-nya...

saya larascoolcas@multiply.com
maspungky wrote on Aug 26
maaf ya mas kalau artikelnya saya copy untuk data tambahan dalam laporan antara pekerjaan saya tentang "alih teknologi"

semoga... artikel yang saya copy ini memberikan banyak masukan dalam pengembangan ide-ide.

makasih ya mas, atas sumbangsih data-nya...

saya larascoolcas@multiply.com
tidak masalah... semoga bermanfaat buat Laras
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 Sam Royama All rights reserved.