Beberapa waktu yang lalu, anakku yang nomor 1, Fadia Raudatuz Zikri (Faya -- 7 tahun) bertanya padaku, " Pa... kerja apa sih yang bisa bikin kaya?" Hanya sedikit pertanyaan darinya, tapi ini membuat saya terhenyak...sadar kalau saya harus mempersiapkan diri anak saya sejak dini. Mungkin ini akibat saya membaca buku Rich Dad..Poor Dad (Robert K). Saya merasa sebagai Poor Dad bagi anak-anakku. " Apa jadi dokter bisa kaya? Tuh... dokter gigi Faya rumahnya bagus...tingkat 2 ... terus ada kolam renangnya...". Mungkin hal ini mengarah juga pada impiannya, ingin punya rumah tingkat 28.
Maka dengan susah payah kucoba terangkan, kalau profesi dokterpun tidak akan menjamin seseorang akan menjadi kaya raya. Yang bisa menjadikan seseorang cepat menjadi kaya adalah bisnis, atau untuk sementara untuk si Faya aku perkenalkan dengan istilah berjualan (sekalipun kita adalah dokter, kalau tak pintar menjual jasa, juga akan kurang pasien). Saya terpaksa harus hati-hati untuk menerangkan dunia bisnis baginya. Karena bagaimanapun juga alam pengetahuan Faya belumlah sampai pada pemahaman tentang bisnis dan investasi.
Kebetulan sekali Faya punya banyak gelang karet hadiah dari Pakdhe-nya yang apabila dipakai semua bisa memenuhi lengannya. Melihat hal itu, kusarankan agar faya menjual sebagian gelang itu pada temannya. Keesokan harinya Faya mencoba menjualnya pada teman sekelasnya. Ternyata tidak ada satupun yang laku. Waktu saya tanyakan kenapa tidak laku. Maka ia menjawab kalau teman-temannya bilang harganya terlalu mahal.
Selepas kejadian itu Faya tak tampak ingin berjualan lagi. Dan saya tak mau menyinggung halo itu lagi. Hingga pada suatu saat ia bertanya lagi padaku... kerja apa supaya kaya? Maka sekali lagi saya katakan - jualan -. Dan kuterangkan padanya kalau dulu saat menjual gelang karet, harganya terlalu mahal, coba besok jual lagi dengan harga yang lebih murah.
Keesokan harinya ia membawa dagangannya ke sekolah, dan karena kesibukanku di tempat kerja menjadikan saya lupa hal itu. Baru saya ingat saat istri saya menelpon padaku, bercerita kalau dagangan si Faya laku, ditambah dagangan krupuknya! Saya benar-benar terkejut... karena sama sekali tak terpikir, kalau Faya berjualan krupuk di sekolah. Setelah pulang kerja saya bertanya padanya, apa benar berjaualan krupuk. Ya... katanya, krupuknya beli dari warungnya Mas Dimas seharga 500 lalu dijual di sekolah seharga 1000. Dan dengan bangga pula dipamerkannya uang hasil jualannya itu. Akupun hanya bisa sumringah dibuatnya. Karena sekarang softskill anakku berkembang lagi yaitu menjadi dia paham tentang untung dan rugi, harapanku semoga dia bisa mengembangkan kemampuan dagangnya menjadi kemampuan bisnis dan akhirnya memiliki pemahaman investasi yang tinggi. Selama dia enjoy untuk berdagang dan tak merasa tertekan, berarti ia mampu mempelajari softskil lain yang sebetulnya teramat sulit dilakukan oleh orang dewasa yaitu keberanian untuk rugi.