"Kemapanan kehidupan di dunia ini adalah ketidakmapanan..."
Kalimat diatas saya kutip dari perkataan lisan seorang yang saya hormati, yaitu Dr. H. Achmad Qadri Ramadhany, SH, MM. Beliau adalah Ketua Umum Yayasan Cendekia Abditama tempat dimana saya beraktifitas mencari sebutir nasi dan sebakul berlian. Beliau memang luar biasa, usianya lebih muda dari saya satu tahun, tetapi telah menanamkan sebagaian inspirasi kebijaksanaan bagi saya.
Seringkali kita sebagai manusia berharap untuk dapat mencapai ketentraman hidup, dengan ukuran yaitu kemapanan hidup. Diharapkan kehidupan menjadi statis pada suatu kondisi yang aman, baik secara ekonomi, posisi, jabatan, emosi, dan lain sebagainya. Apakah itu bisa terjadi? Mustahil itu terjadi... selama manusia hidup, hukum roda berputarlah yang akan terjadi. Selalu dan selalu terkadang di atas dan terkadang di bawah. Suatu hari kita tertawa esoknya kan menangis. Sekarang kaya raya, esok miskin menderita. Sekarang menjabat sebagai pimpinan esok hari menjadi anak buah.
Tapi itulah satu kenyataan yang ingin dikelabui oleh kita sebagai manusia, jikalau sekarang kita berjaya maka engganlah esoknya untuk menderita. Semua akan berdoa kepada Tuhan, untuk tetap berada dalam kondisi yang stabil di segala bidang.
Tapi kembali lagi, hal itu mustahil, karena tiada satu keabadian mutlak yang terjadi di dunia ini, hukum Tuhan, hukum alam-pun telah menunjukkan kepada kita bahwa kemapanan di dunia itu hanyalah seuntai fatamorgana dalam kehidupan kita. Coba kita perhatikan alam semesta ini, matahari pun tak akan abadi menyinari bumi, gunung-pun berubah pada saat meletus. Tiada yang abadi, tiada yang tetap, tiada yang mapan.
Kita sebagai manusia seharusnya mahfum adanya dengan kondisi itu. Harus tersadar bahwa kemapanan yang kita inginkan akan mustahil terwujud selama hayat masih dikandung badan. Tak perlu kita menipu diri ataupun terkecoh oleh kesenangan ataupun kenikmatan yang kitqa dapatkan pada saat ini, dan juga kita tak perlu lagi berputus asa jikala kemalangan telah datang menimpa diri kita. Mengapa? Karena semua itu tiada abadi bagi manusia. Dan sudah menjadi hukum kodrati manusia untuk menjalankan ketidakmapanan tersebut. Menikmati ketidakmapanan dengan mengikuti arus kehidupan apa adanya adalah bentuk kemapanan yang harus kita tempuh dan kita jalani sepanjang hidup kita.

Gambar di atas menunjukkan alur kehidupan manusia, yang terkadang naik... terkadang turun, batas atas maupun batas bawah dari kondisi ini berbeda bagi tiap manusia. Jika semakin tinggi puncak kondisinya maka semakin rendah kondisi terbawahnya. Semakin terbiasa dia menikmati kemewahan, maka jika dia mengalami kemalangan sedikit pasti akan merasa sangat menderita, padahal bagi orang lain, penderitaan itu tidaklah terlalu berat. Setiap orang pasti tahu akan ini, hanya saja keiklasan hati menerima sebentuk kemalangan terkadang bertolak belakang antara ke-tahu-annya dengan kesadarannya. Bukti telah terjadi, begitu seseorang mengalami penderitaan yang bertubi-tubi akhirnya dia memilih bunuh diri, atau seorang kaya raya menjadi gila karena perusahaannya bangkrut.
Mas Bambang Purnomo Sigit