Ibuku...ibu Pertiwi...
Lihatlah nasib anakmu kini...
Sejak kau bercerai...
Kala tak mau dimadu lagi...
Oh ibu Pertiwi....
Betapa malang anakmu ini...
Sejak datangnya si ibu tiri
Yang kejamnya setengah mati
Kini anakmu hanya merintih sedih
Saat harus berumpan nasi yang basi...
Diperkosa setiap hari...
Tuk penuhi nafsu sang ibu tiri...
Ibuku sang Pertiwi...
Dengarlah ratapan kami...
Telah lelah kami didera pedih...
Tuk menanti kau kembali...
Ibu tiriku yang bernama Mrs. Globalisasi
Bukanlah Miss Suzuki, Kawasaki, ataupun Tamagochi...
Bukan pula Gween Stefanie ataupun Mac D...
Bukan pula Totti ataupun MTV
Karena mereka hanyalah alat dari si ibu tiri
Sementara itu ....lihatlah wahai ibu Pertiwi
Si bapak tampak terlalu letih bernyanyi...
Bernyanyi...terus bernyanyi....
"Dangdut suara kecapi.....
perut gendut...
kenyang korupsi..."
Coba tengoklah kami ibu Pertiwi
Dengan koor yang sama setiap hari
Bernyanyi sedih.....
" Lihatlah kami si anak tiri...
sibuk berebut roti...
air matanya berlinang...
emas intan...entah kemana..."
" Hutan gunung sawah lautan...
tiada yang tersimpan...
kini kami hanya sedih....
merintih dan berdo'a...."
Mas Bambang Purnomo Sigit